Sampah Visual Mengotori Kota Yogya

Di sudut-sudut kota Yogya banyak terlihat poster-poster yang ditempelkan di tembok, sebagian poster disobek sembarangan atau ditimpa lagi dengan poster-poster baru. Media komunikasi visual luar ruangan lainnya yang dipasang tanpa memperhatikan estetika, sangat tidak nyaman dilihat yang berujung menimbulkan sampah visual yang mengotori pemandangan.

mural-kota-yogya
Mural kota akan menjadi sampah visual
bila tidak terawat dan mulai memudar warnanya.

Mengutip artikel yang ditulis oleh Sumbo Tinarbuko seorang pemerhati Desain Komunikasi Visual :

Sampah visual yang lebih ganas lagi terlihat pada iklan luar ruang yang memanfaatkan media billboard, mural iklan, spanduk, rontek, baliho, banner, umbul-umbul, dan sebangsanya. Di Kodya Jogja dan kabupaten sekitarnya hal itu menjadi pemandangan yang menyesakkan dada.

Dampak negatif dari media tersebut berujung pada teror visual. Tebaran cengkeramannya dilemparkan lewat visualisasi dan teks mencolok yang seluruhnya memproduksi citraan budaya konsumsi. Dan setiap orang, dalam ruang yang disesakinya diprovokasi ke dalam citraan-citraan tersebut.

Dalam blognya, Sumbo Tinarbuko juga mengungkapkan, mural kota karya kreatif seniman, kini merana, tidak terawat, rusak, kotor, dan mulai memudar warnanya. Padahal niatan awal dari proyek pembuatan mural yang dimaksudkan menjadi dekorasi wajah kota, keberadaannya menduduki posisi antiklimaks. Keharuman mural kota akhirnya terdepak masuk kotak sampah.

Jadi, tak hanya sampah material, sampah visual juga menjadi permasalahan tersendiri. Yogya sebagai kota pariwisata perlu berbenah menjaga keindahan kota dan menciptakan Yogya yang ramah bagi wisatawan. Yuk… bersama-sama mewujudkan ”Jogjaku Bersih dan Hijau”.

Leave a Comment